Mengenal Lebih Dekat Gus Baha: Nasab, Perkawinan hingga Karir Intelektual

Gus Baha atau Bahauddin adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid d...

Profil-Gus-baha
Gus Baha atau Bahauddin adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling. Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.

Mencermati kesan dari para muhibbin atau fans Gus Baha, mengikuti pengajiannya itu menyenangkan. Islam menjadi terasa begitu mudah dan lapang. Ger-geran menjadi bagian tak terpisahkan dari isi ceramahnya yang mendalam dan luas.

Diam-diam, Gus Baha juga menjadi inspirasi bagi para santri pesantren salafiyah (tradisional), bahwa kedalaman ilmu seorang santri, pada akhirnya akan melampaui gelar-gelar akademik.

Gus Baha adalah sosok yang sederhana. Ada cerita tentang pernikahannya yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi para “pejuang Islam” yang masih sorangan wae (jomblo). Ia dijodohkan oleh pamannya untuk menikahi seorang Ning, putri salah seorang pengasuh pesantren Sidogiri.

Sebelum akad nikah, Gus Baha menghadap calon mertuanya untuk meyakinkan bahwa beliau tak salah pilih menantu. Ia menjelaskan dirinya yang jauh dari kemewahan dan hanya bergumul dengan dunia keilmuan. Dijelaskan seperti itu mertuanya malah semakin yakin tak salah pilih. “Klop,” katanya dengan mantap.

Saking sederhanya, sampai saat ini hanya ada satu artikel tentang Gus Baha yang lumayan lengkap dan di-copy paste dalam berbagai media termasuk dirujuk dalam artikel ini. Belum tersedia semacam biografi yang komprehensif yang menjelaskan sosok kiai pesantren yang alim ini.

Kiai kelahiran 1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya.

Mereka menyewa rumah yang tak jauh dari kediamannya. Ketika ayahnya wafat pada 2005, ia harus kembali ke Kragan, tetapi pengajiannya di Yogyakarta tetap berlangsung sebulan sekali. Para muhibbin Gus Baha dengan tekun mengikuti pengajian bulanan itu di Pesantren Izzati Nuril Qur’an Bedukan, Pleret, Bantul.

Ia juga mengampu pengajian tafsir di Bojonegoro. Atas permintaan Kiai Sahal Mahfudh, Gus Baha juga mengajar ushul fiqih di Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati.

Pilihannya memulai “karir” di Jogja sungguh tepat. Di Kota Gudeg ini ia bersua intelektual dari berbagai disiplin ilmu yang semakin mengasah kepakarannya. Kadang ia diledek juga, “Kiai, Anda ini bacaannya luas kok tetap memilih NU?”

Gus Baha menjawabnya ringan, “Memangnya kalau saya tetap NU, jadi problem?”

Di Kota Pelajar ini ia misalnya membentuk “Kajian Kematian” bersama para doktor dan profesor. Karena hidup di dunia yang sebentar saja dipersiapkan begitu serius, maka kehidupan akhirat yang jauh lebih lama, tentu harus dibahas dan dikaji lebih serius lagi.

Tanpa terekam media, termasuk di lingkungan NU, Gus Baha “keluyuran” dari satu pesantren ke pesantren lain, memberikan paparan tentang tafsir dan hadis. Misalnya di Pesantren Sidogiri, ia mengisi Pengaruh Israiliyat Terhadap Penafsiran Alquran. Kali lain ia menyampaikan paparan dalam seminar tafsir dan hadits di Pesantren Fathul Ulum, Kwagean, Kediri. Di Ma’had Ali Pesantren Maslakul Huda ia mengkaji Kontekstualisasi Ayat-Ayat Perang dalam sebuah Muhadloroh ‘Ammah (kuliah umum).

Dalam pengajiannya ia menegaskan sebagai bukan penceramah atau mubalig. Ia mengaji. Sambil membaca kitab Jalalain misalnya, ia membacakan juga sejumlah rujukan yang relevan dengan tema yang dibahas.

Awalnya ia menolak untuk muncul di saluran Youtube, tapi membolehkan para santrinya untuk merekam. Para santri ini lalu berhimpun dalam aplikasi telegram untuk saling berbagai rekaman pengajian Gus Baha. Ada juga yang menggunakan media dan aplikasi lain.

Baru belakangan Gus Baha berkenan pengajian atau ceramahnya tayang di Youtube. Itulah sebabnya dalam tampilan di Youtube, pengajiannya kebanyakan masih berupa audio. Kutipan di awal artikel ini menjadi contoh muhibbin Gus Baha berkomunikasi dan berbagi informasi

Dari sebuah link, saya mendapati sejumlah rekaman pengajian Gus Baha yang bisa diunduh, antara lain: Kajian tafsir Jalalain, Arbain fi Ushuliddin, Hayatus Shohabah, Musnad Ahmad, Nashoihul Ibad, al-Hikam, dan lain-lain. Penguasaanya ilmunya khas pesantren, tidak hanya alim di satu bidang, tapi lintas bidang, tafsir, fikih dan ushul fikih, hadis, dan tentunya tasawuf. Ini berbeda dengan sarjana kampus, baik dari Barat ataupun Timur.

Saya menghargai pilihan medium dakwahnya. Seorang kiai tidak bisa dipaksakan untuk menggunakan saluran media tertentu. Biarlah pilihan-pilihan media itu berkembang seiring waktu dan kebutuhan sang kiai. Jangan sampai saluran-saluran itu justru membuatnya tidak nyaman dan terkekang.

Beri keleluasan kepadanya untuk menempatkan dirinya dalam peta intelektual muslim Indonesia, sesuai karya dan kepakarannya. Dan jadwal ngaji yang padat seperti yang ditunjukkan di paragraf awal ini pun harus “diwaspadai”. Biasanya, kalau sudah sibuk, mulai jarang sendiri, padahal sendiri itu penting.

Ala kulli hal, tulisan ini hanyalah berupa amatan dari jauh dari seorang penggemar baru. Tentu belum cukup untuk menjelaskan sosok Gus Baha secara lengkap. Untuk itu, para santri Gus Baha sendiri yang lebih tepat untuk menuliskannya.

Wallahu a’lam.

Oleh : Iip Dzulkipli Yahya

COMMENTS

Name

Amalan,1,Artikel,43,Berita,99,Hikmah,6,HTI,1,Kajian,7,Kisah,3,Pesantren,2,Pondok Pesantren,1,Resensi,1,Situs Para Wali,3,Ulama,7,wahabi,9,
ltr
item
Islam Santri: Mengenal Lebih Dekat Gus Baha: Nasab, Perkawinan hingga Karir Intelektual
Mengenal Lebih Dekat Gus Baha: Nasab, Perkawinan hingga Karir Intelektual
https://1.bp.blogspot.com/-4msqei62s3I/XS1L0xGrkLI/AAAAAAAAA1M/vvi_tEkNKm0FoD_q_dZ2dakruLOs1ljCgCLcBGAs/s320/gus-baha.png
https://1.bp.blogspot.com/-4msqei62s3I/XS1L0xGrkLI/AAAAAAAAA1M/vvi_tEkNKm0FoD_q_dZ2dakruLOs1ljCgCLcBGAs/s72-c/gus-baha.png
Islam Santri
http://www.islamsantri.com/2019/07/mengenal-lebih-dekat-gus-baha-nasab.html
http://www.islamsantri.com/
http://www.islamsantri.com/
http://www.islamsantri.com/2019/07/mengenal-lebih-dekat-gus-baha-nasab.html
true
1277566646578759398
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy